Peristiwa 

Berbaju Adat Pada Pembukaan Festival Sastra Bengkulu

Festival Sastra Bengkulu kembali digelar untuk kedua kalinya setelah pagelaran yang pertama pada Juli 2018. FSB 2018 merupakan gaung pertama dari acara ini dan berjalan dengan sukses.
Festival Sastra Bengkulu 2019 digelar pada 13-15 September. Acara ini menghadirkan penyair dan sastrawan (penyair, cerpenis,novelis, dan esais) dari berbagai daerah di Indonesia dan negara tetangga (Malaysia).


FSB 2019 diberi tema Sastra, Tradisi, dan Anak Muda. Tema itu dipilih untuk memberi ruang yang lebih luas kepada anak muda untuk menulis dan mengapresiasi sastra. Tema ini juga mengandung pesan agar anak muda tidak melupakan tradisi dan budayanya.

Tersebab ingin menekan pentingnya merawat tradisilah, maka pada malam pembukaan saya memakai pakaian adat Bengkulu. Ini pun kali kedua saya memakai baju adat pada malam pembukaan, sebelumnya pada FSB 2018 saya melakukan hal serupa. Bukan tanpa alasan saya memakai kostum tersebut. Selain terkait tema, saya ingin memperkenalkan baju adat tersebut kepada tamu penyair maupun tamu undangan yang hadir. Kostum itu memiliki arti penting buat saya.

Di Bengkulu zaman dulu Baju Adat itu hanya dipakai dua kali pada saat prosesi penting dalam hidup seorang perempuan. Pertama, saat Akil baligh (memasuki usia dewasa) dan pada saat melepas masa lajang (menikah).

Prosesi Akil baligh pada perempuan Bengkulu diberi nama “diayikkah” (sunatan). Dimana pengantin kecik disucikan, dimandikan di ulu sungai dengan menggunakan rempah-rempah antara lain kencur dan jeruk nipis,lalu kemudian diarak dengan tetabuhan rabana. Pengantin kecik lalu memutari pohon kelapa kecil sebanyak tujuh kali sambil menari dengan selendang di tangan, saat menari itu pengantin kecik dilempari dengan uang logam dan beras yang sudah diberi bumbu kunyit, saat itu pula anak-anak kecil lainnya berebut memunguti umah logam yang ditaburkan ke pengantin kecik yang sedang menari tersebut.

Kedua, pada saat melepas masa lajang atau menikah. Baju adat ini dipakai oleh perempuan Bengkulu pada saat prosesi pernikahan. Hal yang sama seperti saat pengantin kecik, pengantin dewasa juga menggunakannya pada saat yang sakral dalam hidupnya.

Festival Sastra Bengkulu merupakan sesuatu yang bersejarah dalam hidup saya, karena saya melakukannya dengan hati yang bersih, dengan tujuan yang mulia. Saya tidak pernah melupakan nilai leluhur yang ditanamkan kepada saya dari kecil hingga saat ini.

Baju adat yang saya gunakan adalah jati diri saya sebagai perempuan Bengkulu yang kental dengan adat istiadat. Saya tidak ingin nilai-nilai itu luntur dalam diri saya. Sebisa mungkin dalam peristiwa penting hidup saya, saya akan tonjolkan nilai leluhur itu.

Baju adat yang saya gunakan ini juga merupakan pinjaman dari seorang sahabat baik seniman muda Bengkulu, yang tahun lalu juga terlibat dalam kepanitiaan FSB 2018. Kali ini dia hanya menitipkan baju adat itu melalui seorang seniman Bengkulu lainnya kepada saya. Ini membuktikan bahwa sebetulnya banyak seniman Bengkulu yang mendukung acara ini. Termasuk Dewan Kesenian Bengkulu. Terima kasih atas kebaikan dan dukungan teman-teman semua.

Related posts

Leave a Comment