Kisah 

Durian Bengkulu di Jakarta

Orang Bengkulu tentunya tidak asing lagi dengan buah berduri tajam ini. Karena hampir sebagaian rumah di daerah ini mempunyai pohonnya.

Buah musim yang selalu menjadi icon tahunan bagi masyarakat Bengkulu ini sangat dinanti-nanti. Dulu setiap musim tiba, buah durian sampai busuk di bawah pohonnya karena sangking banyaknya dan untuk dijual harganya masih sangat murah, bahkan tidak laku sama sekali.

Dikonsumsi sendiri tidak kehabisan dan sudah tidak selera lagi. Paling buah durian dibuat lempuk (dodol duren khas Bengkulu) atau tempoyak (fermentasi daging durian). Karena bisa bertahan lebih lama dengan olahan tersebut. Bayangkan saja harga satu buah durian super hanya berkisar 2-5 ribu rupiah saja pada zaman itu.

Masih lekat di ingatan saya saat musim durian tiba. Seisi rumah bau durian semua sampai pusing. Wanginya menyengat tidak bisa dibendung oleh apapun. Bahkan duriannya sampai pecah karena kelewat matang di tumpukkan di sudut rumah. Orang tua saya juga memiliki kebun durian. Setiap musim tiba pohon-pohonnya berbuah lebat.

Tapi sekarang alhamdulillah tidak akan ada lagi buah durian yang busuk di bawah pohon dan di tumpukkan sudut rumah. Masyarakatnya pun tidak akan mengeluh lagi dengan murahnya harga buah durian ini. Sekarang, setiap panen buah durian ludes terjual. Bahkan di borong oleh pengepul masih dipohonnya dan di panen masih mentah untuk dibawah dan dijual di Jakarta.

Harganya juga sudah lumayan tinggi. Saat musim tiba masyarakat menyambutnya dengan suka cita karena ini ladang uang untuk mereka. Harga perbuahnya saja bisa mencapai 20-25 ribu rupiah untuk yang paling super. Bahkan masyarakatnya pun rela menginap di kebun duriannya agar setiap buah durian yang jatuh bisa langsung dipungut dan tidak diambil orang atau dimakan oleh babi hutan dan tentunya bisa menghasilkan uang. Kalau dulu durian hanya diambil yang super-supernya saja, yang bisa laku dijual. Namun sekarang semua ukuran diambil dan semua laku terjual.

Banyaknya para pegepul durian yang datang dari daerah lain, ke Bengkulu, menyebabkan kualitas dari rasa durian Sumatera sudah berkurang. Karena durian dipanen sebelum waktunya. Bisa dikatakan durian masih muda sudah dipanen, jadi rasanya pun sama sekali tidak manis bahkan tidak ada rasa sama sekali. Sangat disayangkan. Padahal dulu durian Sumatera sangat terkenal karena kualitas rasanya yang super legit, kandungan alkoholnya yang tinggi, dan berdaging tebal.

Sekarang, hampir setiap sudut Jakarta ada durian Sumatera. Para pengepul selalu membawa dan menjual durian-durian itu. Memang harga durian Sumatera lebih murah dibandingkan dengan harga durian di Jakarta. Sehingga berapapun durian yang dibawa dan dijual oleh para pengepul habis terjual. Tapi, tentunya para pengepul masih mendapatkan keuntungan dari hasil jualan mereka itu.

Adanya pengepul durian memang menguntungkan bagi masyarakat kampung, karena buah durian mereka bisa terjual habis tanpa sisah dan menghasilkan uang bagi mereka. Tapi, kerugiannya kualitas durian Sumatera sudah tidak seperti dulu lagi.

Memang, semua ada resiko baik dan buruknya. Hal itu tidak bisa di pungkiri dari kehidupan manusia. Karena Allah telah menciptakan semua yang ada di bumi ini dengan segala resiko baik dan buruknya.

Depok, 29 Januari 2019
willyana.com || Twitter/IG: @puisiwilly

Related posts

Leave a Comment