Agenda Artikel Foto 

Tarikan Kuas Baron Basuning

Di indonesia cukup banyak pelukis-pelukis hebat dengan karya-karyanya yang mendunia. Mereka berasal dari berbagai daerah. Mereka juga kerap kali mengadakan pagelaran pameran baik tunggal maupun bersama.

Kali ini Galeri Nasional Indonesia (Galnas) mengadakan pameran lukisan karya tunggal dari sang pelukis senior Indonesia, kelahiran Pagar Alam, Sumatera Selatan, 16 September 1960, dengan karya abstraknya bertema “Noor”

Pameran dibuka pada 8 Januari 2019, pukul 19.30 di Galeri Nasional Indonesia Gedung A. Pameran ini juga diisi dengan beberapa acara yakni Seminar Kebudayaan yang berlangsung pada hari Jumat, 11 Januari 2019 dimulai pukul 14:00 sampai dengan selesai. Seminar ini mengusung tema “Memaknai Seni untuk Kebangsaan” , dimoderatori oleh Dwi Anggita (TV Anshor) dengan pembicara Erros Jarot (budayawan), Yudi Latif, PhD (pegiat pancasila), dan Eddy Soetriyana (Kurator Pameran).

Selain itu juga ada beberapa acara lainnya yakni, Artist Talk, pada hari Minggu 13 Januari 2019, oleh Eddy Soetriyana (Kurator Seni Rupa) dan Hendra Wijanto (Kritikus Seni Rupa), serta Echibition Tour (untuk Pelajar / mahasiswa) yang akan berlangsung 19 – 20 Januari 2019.

Pameran ini berlangsung selama satu bulan penuh, terhitung dari 8 Januari sampai 8 Februari 2019 mendatang.

Pameran ini terinspirasi dari perjalanan Baron Basuning ke berbagai bangunan Islam yang memiliki nilai artistik yang khas.
Terbukti dengan konsep yang dibuat dalam ruangan Galeri Nasional Indonesia yang digunakan untuk pameran tersebut khas dengan nuansa timur tengah. Dengan set seperti di dalam sebuah bangunan masjid.

Puluhan lukisan dipajang dengan berbagai ukuran. Lukisan-lukisan pelukis Sumatera Selatan ini memiliki keunikan tersendiri di setiap tema lukisannya. Karya yang menurut saya sangat memukau. Tapi, ada salah satu lukisan yang sangat unik menurut saya. Yaitu lukisan dengan medium kaca. Yang dipajang di ruangan ke dua yang bersebelahan dengan ruangan pertama. Lukisan itu diberi judu “Ego”.

Tahun 1980 Baron Basuning lulus Sekolah Menengan Tingkat Atas. Lalu pada tahun 1981 ia melanjutkan pendidikan ke Sekolah Tinggi Publisistik Jakarta, namun tidak ia selesaikan. Ia juga seorang aktivis dan jurnalis. Ia menekuni itu sampai tahun 1998, sebelum terjun menjadi seorang perupa hingga sekarang.

Baron Basuning sempat mengenyam pendidikan seni rupa di Fresno Citu College, Fresno, California, USE (1986) selama tujuh tahun. Ia juga bergabung dengan MS. World Discoverer Society Expedition Cruise Line. Ini membuat dia memiliki kesempatan pergi ke berbagai negara dan belahan dunia. Seperti Brazil, India, Miyanmar, Prancis, Spanyol, Argentina, Afika selatan, Kutub Selatan dan lain-lain.

Tercatat sudah 10 kali ia menyelenggarakan pameran tunggalnya sejak tahun (2005) terakhir (2019) di Galeri Nasional Indonesia yang sedang berlangsung saat ini. Sementara pameran bersama sudah sembilan kali ia selenggarakan sejak (2001) hingga terakhir (2012) di Agora Gallery New York, Amerika Serikat.

Baron Basuning dikenal dengan karya abstraknya. Ia juga kenal dekat dengan pelukis Hanafi. Awal kiprahnya di dunia senirupa, lukisannya didominasi dengan warna-warna gelap terutama hitam. Namun seiring berjalannya waktu lukisannya mulai nampak minimalis dengan menggunakan warna pastel dan putih.

Saat ini pelukis bertangan dingin ini menjabat sebagai Ketua Yayasan Kreasi Pitulungan dan Ketua Bidang Hubungan Sosial Masyarakat (Himpunan Pelukis Jakarta). Berdomisili Depok Jawa Barat.

Depok, 10 Januari 2019
Willy Ana.com || IG/Twitter: @puisiwilly

Related posts

Leave a Comment