Agenda Kisah 

Kisah Sepucuk Surat untuk Bupati Kepahiyang

>Banyak drama dalam penyiapan Festival Sastra Bengkulu. Ini adalah salah dari drama itu: kisah sepucuk surat yang kami antarkan pada sebuah malam ke Kepahiyang, dua jam perjalan dari Bengkulu.

Festival Sastra Bengkulu 13-15 Juli 2018 meninggalkan berbagai kenangan. Salah-satunya perjalanan mengantar surat rekomendasi PLT Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah untuk Bupati Kepahiyang tentang agenda wisata budaya peserta festival ke kebun teh Kebawetan, Kepahiyang.

Pada 11Juli 2018, satu hari menjelang hari H perhelatan Festival Sastra Bengkulu surat rekomendasi dari Bapak PLT Gubernur Bengkulu yang ditujukan untuk Bapak Bupati Kepahiyang belum juga turun. Pak Gubernur sangat sibuk, sehingga surat rekomendasi itu belum ditandatangani. Padahal surat itu dibutuhkan agar Bupati Kepahiyang untuk ikut mendukung acara Festival Sastra Bengkulu yang direncanakan ditutup di Kebun Teh Kabawetan Kepahiyang.

Saya @willyana dan @musismail terus memantau surat tersebut yang dibantu oleh Bapak Hendarman (Kasubbag Pendidikan dan Kebudayaan Kantor Gubernur).
Kami berdua sampai “ngantor” di kantor Gubernur agar memudahkan untuk koordinasi dengan pihak Pemda untuk kelancaran acara Festival Sastra Bengkulu itu.

Waktu terus berjalan dan surat itupun baru turun (dari PLT Gubernur setelah ditandatanganinya) ke stafnya sekitar pukul 17.15 pada Rabu sore. Saya @willyana (ketua umum dan penggagas acara FSB) dan @musismail ( SC dan penggagas acara) lalu buru-buru mengantarkan surat itu sendiri ke Bupati Kepahiyang. Kami tidak menunggu besok pagi. Padahal Pak Hendarman menawarkan agar kami dibantu diantar oleh supirnya besok kami. Tapi kami tidak mau merepotkan.

Pertimbangan lain karena surat itu harus segera sampai ke Bupati. Kami ingin bertemu Bupati agar kami bisa memberi penjelasan secara detil tentang acara ini. Kami menggunakan mobil rental yang disopiri oleh Bang @musismail. Saya sempat ketar-ketir sebetulnya karena Bang Mus tidak mengenal medan atau jalan yang berkelok-kelok di pegunungan menuju ke Kepahiyang. Modal kami adalah peta digital di telepon genggam yang memandu kami di jalan.

Sebenarnya kami punya teman yang menghubungkan panitia ke Bapak Bupati Kepahiyang, yakni Emong Soewandi. Saya menelpon Bang Emong namun ia sedang berada di luar daerah. Bang Emong lalu memberi kontak temannya yang kebetulan juga adalah Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kepahiyang, Bapak Edy subagia.

Dalam perjalanan dengan mengunakan kendaraan sewaan, saya berkali-kali berkomunikasi lewat telepon dengan Pak Edy Subagia. Sebelumnya Bang Emong sudah mengabarkan kedatangan kami ke Pak Edy. Pak Edi Subagia dan Istrinya ternyata sudah menunggu kedatangan kami di sebuah warung Aceh di pusat kota Kepahiyang.

Sekitar dua jam menempuh perjalanan, kami pun tiba di Kota Kepahiyang. Bagi saya pribadi kota ini sudah tidak asing lagi. Ini berbeda dengan @musismail. Baginya ini perjalanan pertama kalinya ke kota ini dan perjalanannya pun penuh tantangan karena melewati jalan yang disebut dengan Liku Sembilan (kelok sembilan).

Setibanya di Kota Kepahiyang, kami disambut oleh Pak Edi Subagia dan Istri yang sudah menunggu di sebuah warung Mie Aceh yang membuat @musismail kaget. Karena di salah satu jalan pasar Kepahiyang itu berderet warung Mie Aceh. Kami menikmati mie Aceh sambil ngobrol. Kemudian kami pun ditawari menginap di rumah Pak Edy. Tentu saja kami sambut dengan suka cita, karena kami akan bisa mengobrol lebih panjang dan silaturahmi dengan keluarga Pak Edi. Sebelum pulang Pak Edi Subagia dan istri mampir di penjual durian di Kepahiyang sedang musim buah berduri tajam itu.

Bapak Edi Subagia tinggal di rumahnya berdua sama istri. Anak-anaknya, selain ada yang kuliah di luar kota, ada juga yang sudah menikah dan tinggal di rumah sendiri. Sambil ngobrol kami makan Durian. Nah yang bikin seru, saya mempraktekkan bagaimana cara membuka buah durian tersebut yang membuat @musismail, Pak Edi Subagia beserta istri merasa surprise melihat keahlian saya membuka buah itu. Saya pun menjelaskan bahwa membuka durian itu harus menggunakan trik tertentu supaya membukanya gampang dan isi dari buah tersebut tidak hancur.

Setelah kenyang dan ngobrol panjang lebar mengenai acara yang direncanakan dihelat di kota Kepahiyang itu kami pun melepas lelah dengan istirahat. Paginya sekitar pukul 07.00 kami berangkat menemui Bapak Bupati Kepahiyang di rumah dinasnya.

Kamipun disambut dengan ramah oleh Bapak Bupati. Kami mengutarakan maksud dan tujuan kami bertemu beliau. Alhamdulillah respons beliau sangat mendukung meskipun awalnya agak kaget karena pemberitahuan kepada Pak Bupati itu mendadak kami sampaikan. Tapi setelah kami perjelas dengan detil sejumlah hambatan akhirnya beliaupun memaklumi dan mengerti. Pak Bupati lalu menugaskan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dan Dinas Parawisata, Pemuda dan Olahraga untuk memfasilitasi sisi akhir Festival Sastra Bengkulu itu di Kepahiyang.

Akhirnya kisah inipun berakhir sangat manis. Pak Bupat dan jajarannya menyambut sastrawan dengan sangat luar biasa. Ada pentas dol yang digarap Pak Edy dan kawan-kawan. Bahkan Pak Bupati membaca puisi dalam acara tersebut. Para sastrawan peserta festival tentu tak ketinggalan, seperti ayah Sutardji Calzoum Bachri, Pak Ahmadun Yosi Herfanda, dan sebagainya.

Semua peserta Festival Sastra Bengkulu begitu puas dan menikmati juga terkagum-kagum dengan suguhan acara penutupan itu. Berita tentang kegiatan ini juga bisa dibaca di Koran Tempo, Jumat 20 Juli 2018 dan sejumlah media online.

Depok, 27 Juli 2018
Salam sastra Penuh Cinta
@willyana ( ketua umum dan penggagas acara Festival Sastra Bengkulu)

Related posts

Leave a Comment