Artikel 

Laporan Ketua Panitia: Festival Sastra Bengkulu Digagas Bermodal Semangat

>Ini adalah laporan saya sebagai ketua umum panitia Festival Sastra Bengkulu yang diadakan di Bengkulu pada 13-15 Juli 2018. Festival itu dibuka oleh Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah di Pendopo Gubernur Bengkulu, Jumat malam, 13 Juli 2018. Kegiatan itu melibatkan sekitar 100 sastrawan dalam dan luar negeri.

Assalamualaikum wwb. Yang saya hormati Bapak PLT Gubernur Bengkulu, Bapak Rohidin Mersyah
Yang saya hormati Bapak Sekretaris Daerah Provinsi Bengkulu dan jajarannya, bapak-bapak pipinan daerah (kabupaten/kota), pimpinan instansi pemerintah, para sponsor, dan para sastrawan sekalian.

Sebelum menyampaikan laporan ini, saya atas nama panitia mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Bapak PLT Gubernur dan jajarannya di pemerintah provinsi Bengkulu yang dengan penuh semangat mendukung acara ini. Bahkan, pemerintah provinsi Bengkulu membentuk tim panitia pendamping untuk mengawal dan memastikan kegiatan ini berjalan dengan baik. Tim panitia pendamping itu dipimpin oleh Bapak Rehal Ikmal, Kepala Biro Kesra Pemerintah Provinsi Bengkulu, dan beranggotakan para pejabat di Pemprov Bengkulu dan dinas-dinas terkait.

Alhamdulillah, dengan segala keterbatasan, akhirnya Festival Sastra Bengkulu (FSB) 2018 terlaksana. Kami sebut keterbatasan, karena kegiatan ini kami buat “hanya” dengan semangat. Pertama, semangat bersastra dan terus menghidupkan sastra di bumi pertiwi dengan cara kami yang kami bisa. Kedua, semangat untuk menggelar sebuah festival sastra bertaraf nasional di Bengkulu. Ketiga, semangat untuk merekam jejak Presiden RI pertama, Sukarno, bersama Ibu Fatmawati, di Bengkulu. Maka itu festival ini kami berisi tema “Sukarno, Cinta dan Sastra”.

Gagasan ini kami mulai pada Desember 2017. Awalnya adalah obrolan saya dengan penyair asal Aceh, Mustafa Ismail. Lalu, gagasan itu saya sampaikan kepada penulis dan jurnalis asal Bengkulu, Iwan Kurniawan. Selanjutnya, berkembang. Kami mendiskusikan pula gagasan ini dengan sastrawan asal Bengkulu, Hudan Hidayat. Namun, belakangan karena kesibukan yang padat, Bang Hudan – begitu saya menyapa – tidak bisa terlibat secara aktif dalam kegiatan ini.

Lalu, kami mengajak sastrawan Ahmadun Yosi Herfanda untuk menjadi tim kurator, bersama Iwan Kurniawan dan Mustafa Ismail. Adapun saya dipercayakan oleh kawan-kawan sebagai “seksi sibuk” alias “ujung tombak”. Tantangan teman-teman saya terima. Ini bagian dari kegelisahan saya untuk berbuat sesuatu bagi dunia sastra sekaligus untuk kampung halaman saya, Bengkulu.

Kami bergerak cepat, menghubungi dan menemui banyak orang untuk menggerakkan kegiatan ini, termasuk mengirim proprosal ke mana-mana. Salah satu proposal itu kami kirimkan kepada PLT Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah. Di luar dugaan, konsep acara dalam bentuk proposal itu mendapat respon sangat positif. Pada suatu hari, Bapak Hendarman, Kasubbag Pendidikan dan Kebudayaan Sekretariat Daerah Pemerintah Provinsi Bengkulu, menghubungi saya.

Bapak Hendarman mengajak kami, panitia Festival Sastra Bengkulu, mendiskusikan hal ini dengan para pejabat Pemerintah Provinsi. Sejak itulah, kami makin bersemangat untuk menggelar acara ini. Perjalanan ini tidak mudah. Pemerintah Provinsi hanya memfasilitasi dan menanggung fasilitas untuk acara, karena acara ini memang tidak dianggarkan APB. Berbekal itu, kami pun berusaha untuk mendapatkan sumber-sumber lain dari sponsor agar kegiatan ini bisa terlaksana. Memang tidak mudah, meskipun akhirnya bisa menutupi sedikit lubang-lubang yang harus kami tutupi.

Kerja keras itu bukan hanya menyiapkan acara dengan segala elemennya, juga menyiapkan buku puisi tentang Sukarno, Fatmawati dan Bengkulu. Buku yang kemudian kami beri judul “Jejak Cinta di Bumi Raflesia” itu berisi karya-karya penyair Indonesia dan beberapa negara tetangga. Ada 128 penyair dari dalam dan luar negeri yang memberi kontribusi dalam buku itu, dan mereka semua iklas menyumbang puisi untuk buku itu, tanpa dibayar.

Perlu kami sampaikan pula bahwa selain undangan lewat kurasi puisi, kami juga mengundang secara khusus sejumlah sastrawan, tokoh sastra, penulis dan pegiat literasi untuk hadir dalam Festival Sastra Bengkulu. Di Bengkulu sendiri, meskipun ini kegiatan sastra, kami juga mengajak seniman lintas bidang untuk terlibat dalam kepanitiaan, ada seniman teater, seni rupa, tari, dan seterusnya. Semangat kami adalah memperkuat semangat kebersamaan. Sama-sama merayakan sastra. Sama-sama merayakan seni dan kebudayaan.

Sekali lagi, kami sangat berterima kepada Bapak PLT Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah, Bapak Sekretaris Daerah Provinsi Bengkulu, Bapak Reihal Iklmal, Bapak Hendarman, Bapak Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayan Bengkulu dan jajarannya, Bapak Zahirman, serta dinas-dinas terkait lainnya beserta jajarannya. Terima kasih kepada para sponsor, donatur, tim kurator dan terman-teman panitia yang bekerja keras mewujudkan acara ini. Terima kasih kepada para sastrawan, penulis, pegiat literasi, seniman dan semua pihak yang berpartisipasi pada Festival Sastra Bengkulu.

Tentu saja dalam proses penyiapan kegiatan Festival Sastra Bengkulu, tak lepas dari kekurangan dan keluputan-keluputan. Saya sebagai pribadi, maupun mewakili panitia, memohon maaf atas segala kekurangan itu dan jika ada hal-hal yang kurang menyenangkan.

Wassalamualaikum wwb.

Jakarta, 13 Juli 2018
Ketua Umum
Festival Sasta Bengkulu
WILLY ANA

Related posts

Leave a Comment