Peristiwa 

Berpuisi di RRI Bogor

Pentas puisi ini nyaris tak direncanakan. Tadinya teman-teman di kelompok kecil bernama Poros Selatan mengagas silaturahmi sastra dengan cara ngopi-ngopi. Para pegiat sastra di Poros Selatan itu terdiri orang-orang yang berdomisili di selatan Jakarta: Tangerang, Tangerang Selatan, Depok, Bogor dan Bekasi. Mereka adalah simpul-simpul dari jejaring kecil yang bertujuan untuk saling mendukung dan menguatkan sekaligus memperkuat komunitas di masing-masing wilayah itu.

img_20170212_174249

Kami tiap pekan ngopi dan bersilaturahmi di tempat berbeda-beda. Kadang di Tangsel, kadang di Depok, dan tadi (Minggu sore, 12 Februari 2017) giliran ngopi di Bogor. Pekan depan rencana berpindah lagi ngopi di Bekasi. Nah rupanya, Pak Ace Sumanta menyambut teman-teman yang datang dengan acara “serius” meskipun tetap santai. Ada pembukaan oleh Pak Ace, lalu pemantik diskusi oleh Bang Mus (Mustafa Ismail) yang menjelaskan soal pentingnya merekatkan semua komunitas agar menjadi jejaring yang kuat, hingga usulan membuat buku puisi tentang Bogor dalam kacamata sastrawan luar Bogor.

Setelah diskusi, dilanjutkan peluncuran empat buku: buku saya (Tabot: Aku Bengkulu), buku Bang Iman Sembada (Perempuan Bulan Ranjang), buku Bang Mus (Tuhan, Kunang-kunang & 45 Kesunyian) dan buku puisi gempa Aceh “6,5 SR Luka Pidie Jaya”. Keempat buku itu — kebetulan diterbitkan oleh Imaji, sebuah penerbit indie di mana saya kini ikut terlibat mengelolanya.

img_20170212_191539

Setelah peluncuran buku secara sederhana itu, dilanjutkan baca puisi, seperti Pak Ace Sumanta, saya (Willy Ana), Mas Sudiyanto (FLP Pusat), Bang Mustafa Ismail, Bang Iman Sembada, Bunda Rida Nurdiani, Muhammad Nanda (Penyair Bogor) dan lain-lain. Oh ya, ada lagi deklarasi pembentukan Teras Sastra. Ini adalah komunitas yang bercita-cita menjadi ruang publik sebagai ruang sastra. Acara dan kegiatannya nanti bisa diakses di terassastra.com. Btw, acara sore tadi santai, tapi asyik. Kami baru bubar setelah malam. ***

Related posts

Leave a Comment